Kamis, 21 April 2011

Berbahaya, WNA Masuk dan Bekerja Semaunya

Sat, Mar 12th 2011, 11:22

BANDA ACEH - Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Disnakermobduk Aceh, Teuku Syahrul SH mengatakan, warga negara asing (WNA) tidak bisa masuk dan bekerja semaunya di Aceh. Karena, selain melanggar aturan ketenagakerjaan, keberadaan warga asing yang tidak terdata, terkoordinir, dan terawasi dengan baik, dikhawatirkan dapat mengancam stabilitas dan keamanan negara. “Berbahaya, WNA yang masuk dan bekerja seenaknya, apalagi dalam jumlah besar di wilayah pedalaman lagi,” katanya, kepada Serambi, Jumat (11/3).

Menurut Teuku Syahrul, WNA yang masuk ke negeri ini, memang harus mengantongi kartu izin tinggal sementara (Kitas) yang dikeluarkan Imigrasi dan wajib diawasi. Namun, khusus bagi TKA (tenaga kerja asing), selain perusahaan yang menggunakan TKA telah memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA), pekerja asing itu sendiri wajib mengantongi izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA) yang dikeluarkan Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja

(Binapenta) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Selain itu, IMTA yang diterbitkan Dirjen Binapenta, diberikan berdasarkan RPTKA. Sebagai contoh, izin kerja bagi WNA dikeluarkan untuk kabupaten A dengan area kerja blok B, namun mereka bekerja diblok C, maka sesuai aturan ketenagakerja bagi warga asing, pengawasan tenaga kerja, berkewajiban mengusirnya. Begitupun, pihak belum mengetahui persis, apakah 15 WNA asal Cina yang menggarap timah di Gayo Lues, telah mengantongi IMTA. Karena, hingga saat ini, pihaknya belum menerima dari Pemkab Gayo Lues.

Kecuali telah mengantongi IMTA, keberadaan TKA yang tidak terdata, terkoordinir dan terawasi dengan baik, sebut Teuku Syahrul, dikhawatirkan dapat mengancam stabilitas dan keamanan negara. “Tanpa pengawasan yang ketat, andai saja ada WNA dalam jumlah besar dan bekerja wilayah pedalaman, sulit diprediksi, apakah mereka bekerja atau ada kepentingan lain yang mengancam keamanan dan kepentingan negara,” katanya.

Kepala Biro Hukum dan Humas Setda Aceh, Makmur Ibrahim SH M.Hum, yang dikonfirmasi Serambi, terkait adanya aktivitas warga asing yang melakukan eksplorasi timah di pedalaman Gayo Lues dan Aceh Timur, Gubernur Irwandi Yusuf, telah memerintahkan Kadis Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, agar melakukan investigasi terhadap keberadaan pekerja asing, plus dapat mengambil tindakan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Sementara itu, Kepala Imigrasi Langsa Ridwan Manurung, melalui Kasi Lalintuskim, M Akmal SH menyebutkan, 15 warga negara Cina yang melakukan aktivitas penambangan timah di kawasan Lokop, Aceh Timur, memiliki dokumen lengkap keimigrasian dan izin dari instansi terkait. “Aktivitas warga negara asing tersebut juga sudah ada izin kerja dari pemerintah,” kata M Akmal SH. Menurutnya, ke 15 warga Cina itu, selain mengantongi Kitas, mereka juga sudah memiliki izin kerja dari instansi terkait yang dikeluarkan Direktur Jenderal Pembina Penempatan Tenaga Kerja, Kasubdit Analisis Perijinan Tenaga Kerja Asing Sektor Jasa, Drs Hery Sudarmanto SH.

Tak hanya itu, para pekerja asal Cina tersebut, diketahui dipekerjakan PT Meuligoe Timue Mining Zhongsheng, Gayo Letasri, dan Energi Oriental. “Semua syarat dan aturan ketenagakerjaan sudah terpenuhi,” katanya.Ia menambahkan, ke- 15 warga negara Cina itu adalah, Li Yuming, Fu Ruilin, Shenggoubai, Wu Jing Lin, Yang Zhanbo, Derendong, Zhang Zhongbo, Bing Jun Xu (di bawah bendera Energi Oriental Utama). Kemudian Xuesong Bai, Qingbin Wang, Lutcai, Wang Di, Zhijie Wang, Yangui Wang, Yan Liu, dan Yugao (di bawah bendera Gayo Lestari. “Mereka semua tergabung dalam satu group di bawah PT Meuligoe Timue Mining Zhongsheng,” jelas Akmal. (awi/is)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 20 April 2011

Cina Penggarap Timah Aceh Miliki Kitas Hingga November

Fri, Mar 11th 2011, 10:16

BANDA ACEH - Sebanyak 15 warga negara asing (WNA) asal Cina yang melakukan penambangan timah yang diduga masuk kawasan hutan lindung antara Pining-Lokop (Gayo Lues-Aceh Timur) ternyata mengantongi kartu izin tinggal terbatas (Kitas) setahun (1 November 2010-1 November 2011) yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Langsa.

Kepala Kantor Imigrasi Langsa, Ridwan Manurung SH MH mengakui pihaknya mengeluarkan Kitas untuk 15 warga Cina itu karena semua syarat diajukan perusahaan yang memperkerjakan mereka terpenuhi. “Ada tiga perusahaan tempat mereka bekerja. Semua syarat yang diajukan untuk mendapatkan Kitas terpenuhi, misalnya mereka mengantongi surat rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) yang dikeluarkan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) RI,” kata Ridwan menjawab Serambi usai mengikuti rapat di Kanwil Kemenkumham Aceh, Banda Aceh, Kamis kemarin.

Menurut Ridwan, dalam RPTKA yang berlaku hingga 2012 itu ditetapkan wilayah kerja mereka di Aceh Timur, Gayo Lues, dan Jakarta. “Lokasi penambangan di Lokop, Aceh Timur dan Pinding, Gayo Lues. Sedangkan Jakarta hanya perkantoran saja. Sedangkan Kitas nanti bisa diperpanjang sesuai masa berlaku RPTKA,” jelasnya.

Selain RPTKA, syarat lainnya yang diajukan untuk memperoleh Kitas itu juga terpenuhi, misalnya TA.01 (izin tenaga kerja asing), penguasaan visa dari Direktorat Jenderal Imigrasi ke KBRI di Beijing, dan berbagai dokumen perusahaan. “Bahkan izin dari bupati dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) dari kedua wilayah itu juga lengkap,” kata Ridwan.

Respons serius
Ditanya lokasi penambangan timah itu termasuk di kawasan hutan lindung, Ridwan mengaku tidak tahu karena kewenangan mereka hanyalah mengeluarkan Kitas kepada tenaga kerja asing jika semua syarat sudah dipenuhi.

“Tapi persoalan ini tetap kami respons serius, jika terjadi penyalahgunaan kerja tak sesuai yang diberikan dalam Kitas, mereka akan diawasi, bahkan bisa dideportasi ke negara asal,” tambahnya.

Seperti diketahui, saat Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Pangdam IM Mayjen TNI Adi Mulyono dan rombongan pulang kunjungan kerja dari wilayah Gayo Lues menggunakan mobil, Gubernur Irwandi yang menyetir sendiri mobil Rubicon milik pribadinya tiba-tiba berhenti di tengah hutan belantara dekat daerah aliran sungai (DAS) Krueng Uring, Selasa (9/3).

Di lokasi yang termasuk dalam areal hutan lindung antara Pining-Lokop (Gayo Lues-Aceh Timur) dan konon termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Gubernur mendapati sebuah camp mencurigakan terbuat dari papan dengan pagar kawat. Menjawab pertanyaan Irwandi, seorang di antara 15 warga Cina itu mengaku bahwa pihaknya sedang mengeksplorasi tambang timah. Seorang di antara mereka perempuan.

Gubernur memeriksa paspor dan izin tinggal seluruh penghuni camp itu. Berdasarkan visa izin tinggal yang mereka kantongi memang tercantum jelas adalah sebagai pekerja. Dalam izin tinggal itu mereka bekerja di tiga perusahaan yaitu, PT Energi Oriental Utama, PT Gayo Lues, dan PT Wayang Mini Gayoindo.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan kepada Gubernur, mereka mengakui dipekerjakan oleh tiga perusahaan itu yang sudah tiga bulan berada dalam kawasan hutan tersebut. Perusahaan itu sendiri berkantor di Blangkeujeren, Gayo Lues. Terkait izin eksplorasi tambang timah tersebut, mereka akui ada, tetapi seluruh surat itu ada di kantornya dan mereka tidak memegangnya. Luas areal eksplorasi sekitar 63 kilometer persegi. (sal)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 18 April 2011

Cina Asing Garap Timah Aceh

* Dipergoki Gubernur dan Pangdam
Thu, Mar 10th 2011, 10:44


Gubernur Aceh Irwandi yusuf bersama Pangdam Iskandar Muda Adi Mulyono memeriksa pasport dan visa izin tinggal 15 warga negara asing asal Cina yang melakukan eksplorasi tambang timah di kawasan hutan ekosistem Leuser antara Pining, Gayo Lues - Lokop, Aceh Timur. Keberadaan mereka dipergoki Gubernur dan Pangdam saat menelusuri kawasan hutan itu, Selasa (8/3). SERAMBI/SUPRIJAL YUSUF

BANDA ACEH - Sebanyak 15 warga negara asing (WNA) asal Cina, dipergoki sedang melakukan penambangan timah dalam areal hutan lindung antara Pining-Lokop (Gayo Lues-Aceh Timur), yang konon termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Para penggarap timah Aceh asal Cina itu dipergoki rombongan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Pangdam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Adi Mulyono, saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah itu, Selasa (8/3).

Gubernur Irwandi Yusuf bersama Pangdam IM Mayjen TNI Adi Mulyono dan kedua istri pejabat tinggi Aceh itu masing-masing, Darwati A Gani dan Nunuk Tri Handayani berada dalam satu mobil Rubicon warna hijau BL 666 JM. Mobil yang langsung disopiri Gubernur Irwandi berada paling depan dari 12 mobil yang ikut dalam rombongan itu.

Saat rombongan sedang melakukan perjalanan menelusuri hutan belantara dengan kondisi jalan tikus --lebar badan jalan hanya paspasan ban mobil-- yang penuh kubangan lumpur serta berbatuan cadas dan besar. Tiba-tiba di tengah hutan belantara di pinggir jalan dekat daerah aliran sungai (DAS) Krueng Uring ditemukan sebuah camp yang terbuat dari papan dengan pagar kawat.

Melihat camp yang mencurigakan di tengah hutan, Irwandi langsung memberhentikan mobilnya. Gubernur bersama Pangdam yang diikuti anggota rombongan lainnya langsung turun dari mobil, memasuki camp yang di dalamnya terdapat satu tenda hijau corak militer. “Kenapa anda berada di sini,” tanya Gubernur Irwandi pada seorang pria bermata sipit berusia sekitar 65 tahun yang diduga sebagai penerjemah.

Menjawab pertanyaan Irwandi, secara spontan ia langsung menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan eksplorasi tambang timah. Pada saat yang sama, belasan pria bermata sipit yang sebelumnya berada dalam camp itu, satu persatu keluar yang jumlahnya mencapai 15 orang, termasuk satu orang perempuan. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris, kecuali bahasa Cina.

Periksa paspor
Gubernur langsung memeriksa paspor dan izin tinggal seluruh penghuni camp itu. Berdasarkan visa izin tinggal yang mereka kantongi memang tercantum jelas adalah sebagai pekerja. Dalam izin tinggal itu mereka bekerja di tiga perusahaan yaitu, PT Energi Oriental Utama, PT Gayo Lues, dan PT Wayang Mini Gayoindo.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan kepada Gubernur, mereka mengakui dipekerjakan oleh tiga perusahaan itu yang sudah tiga bulan berada dalam kawasan hutan tersebut. Perusahaan itu sendiri berkantor di Blangkeujeren, Gayo Lues. Terkait izin eksplorasi tambang timah di kawasan hutan itu mereka akui ada, tetapi seluruh surat itu ada di kantornya dan mereka tidak memegangnya. Dengan luas areal eksplorasi sekitar 63 kilometer persegi.

Bahkan keberadaan seluruh pekerja itu sudah dilaporkan ke aparat kepolisian dan pihak imigrasi. Dandim Gayo Lues, Letkol Kav Rusdi SIF yang ikut dalam rombongan itu mengakui tidak pernah mengetahui keberadaan pekerja asing dalam hutan tersebut. “Saya tidak pernah mendapat laporan soal mereka ini,” ungkap Dandim yang juga merasa terkejut melihat adanya pekerja asing tersebut.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Aceh, Ir Said Ikhsan yang ditanyai soal izin perusahaan yang melakukan eksplorasi tambang tersebut mengakui tidak tahu. “Kita tidak pernah mengeluarkan izin maupun rekomendasi untuk perusahaan itu. Mungkin ini izinnya dikeluarkan oleh bupati, karena untuk luas areal 100 hektar itu izinnya bisa langsung dikeluarkan oleh kabupaten,” katanya.

Usai melakukan pengecekan itu Gubernur dan Pangdam bersama rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Dan seluruh pekerja tambang asal Cina tidak ada satu pun yang ditahan, tetapi mereka diminta untuk terus dilakukan pengawasan.(sup)

Sumber : Serambinews.com

Aceh Akan Bangun Industri Fiber

Thu, Mar 10th 2011, 08:00

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) akan membangun industri fiber untuk kapal nelayan yang kini mulai kesulitan mendapat bahan baku kayu. “Ini program jangka panjang mengingat nelayan Aceh kesulitan mendapatkan kayu sebagai bahan baku kapal,” kata Kepala DKP Aceh, Razali, Rabu (9/3).

Nelayan kesulitan mendapatkan kayu bahan baku pembuatan kapal sejak Gubernur Aceh memberlakukan moratorium loging. Menurut dia, industri fiber tersebut mulai dikembangkan pada 2012. Jika program ini berhasil, maka nelayan Aceh tidak perlu lagi menggunakan kapal kayu.

“Selain industri ini ramah lingkungan, nelayan Aceh juga mendukung program moratorium loging dengan tidak lagi menggunakan kayu sebagai bahan baku pembuatan kapal,” katanya.

Hanya saja, ucap Razali, nelayan Aceh belum terbiasa menggunakan kapal fiber. Bahkan masih ada anggapan menggunakan kapal fiber tidak cocok dengan kondisi laut di perairan Aceh.

“Itu tidak benar, anggapan nelayan terhadap fiber yang selama ini negatif harus dihilangkan. Nelayan Aceh harus diyakinkan bahwa fiber lebih kuat ketimbang kayu untuk kapal mereka,” ucapnya.

Razali mengatakan, adanya anggapan negatif tersebut karena nelayan Aceh belum mencoba menggunakan kapal fiber. Karena itu DKP Aceh akan terus menyosialisasikan penggunaan kapal fiber.

“Setelah program fiber ini berjalan, nelayan akan merasakan bahwa penggunaan bahan baku dari serat kaca ini lebih murah, kuat, dan mudah didapat,” katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya akan mengajukan izin penebangan khusus untuk memenuhi bahan baku kayu kapal nelayan sebelum industri fiber tersebut dikembangkan. “Nanti kayu-kayu untuk kapal akan diupayakan dari kawasan yang tidak mengganggu konservasi. Tapi ini program jangka pendek. Sedangkan jangka panjang, yakni membangun industri fiber,” pungkas Razali.(ant)

Sumber : Serambinews.com

Pembangunan Jalan Lintas Tengah Tuntas Empat Tahun

* 2011 Dialokasikan Rp 620 Miliar
Tue, Mar 8th 2011, 11:19

BLANGKEJEREN - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan, sangatlah penting dan strategis untuk membangun dengan baik prasarana jalan lintas tengah Aceh. Sebab, dengan adanya jalan berkualitas baik yang menghubungkan dari dan ke wilayah tengah Aceh, maka masyarakat Dataran Tinggi Gayo akan merasa “merdeka”.

Menurutnya, untuk membangun jalan yang menghubungkan Bireuen-Takengon (Aceh Tengah)-Blangkejeren (Gayo Lues)-Kutacane (Aceh Tenggara)-Subulussalam dan sejumlah ruas lainnya di wilayah tengah, butuh dana sekitar Rp 1,8 triliun. “Untuk itu saya berjanji, jalan lintas tengah akan tuntas dalam empat tahun ke depan. Tapi programnya sudah dimulai dari tahun 2011 ini,” ucap Gubernur Irwandi di Pendapa Bupati Gayo Lues, Senin (7/3). Silaturahmi itu dihadiri ratusan tokoh masyarakat, tokoh adat, ulama, dan unsur muspida setempat.

Dalam acara ramah tamah itu Gurbernur Irwandi didampingi Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono, Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim, dan Ketua DPRK Gayo Lues H Muhammad Amru.

Irwandi kembali menegaskan bahwa wilayah tengah Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi cukup besar dan ia akan jadikan daerah itu sebagai Aceh masa depan. “Artinya, daerah ini dengan sumber daya alam yang dimilikinya, menjadi tumpuan perekonomian Aceh pada masa mendatang,” ujar pria kelahiran Bireuen ini.

Menanggapi permintaan tokoh masyarakat yang hadir dalam silaturahmi agar jalan di lintas tengah segera diperbaiki, menurut Irwandi, itu memang sudah menjadi program prioritasnya. Bahkan dalam dua tahun terakhir sudah mulai dilakukan. “Lihat saja jalan Takengon-Blangkejeren saat ini sudah semuanya diaspal, meskipun di sana-sini masih butuh peningkatan dan perbaikan,” ujarnya.

Bahkan untuk memperbaiki dan peningkatan kualitas jalan yang menghubungkan Blangkejeren-Kutacane itu, dalam tahun ini sudah dianggarkan dana Rp 50 miliar. “Saya sudah minta kepala dinas terkait untuk bekerja serius menyelesaikan proyek jalan Blangkejeren-Kutacane yang harus siap dalam tahun 2011 ini,” tegas Irwandi.

Dalam tahun ini, ungkapnya, untuk jalan lintas tengah seluruhnya sudah dianggarkan Rp 620 miliar. Dana sebesar itu termasuk untuk proyek jalan lintas Bireuen-Takengon (Aceh Tengah)-Blangkejeren (Gayo Lues)-Kutacane (Aceh Tenggara). Di samping itu, jalur Samarkilang (Bener Meriah)-Aceh Utara-Pining (Gayo Lues)-Lokop-Peureulak (Aceh Timur), dan Terangon (Gayo Lues)-Ie Mirah (Abdya).

Sedangkan kekurangan dana Rp 1,18 triliun lagi, kata Gubernur, akan diusahakan secara bertahap dalam tiga tahun anggaran. Pada tahun 2014 nanti seluruh jalan di lintas tengah yang menghubungkan pesisir dengan Dataran Tinggi Gayo tersebut sudah mulus. Dengan demikian, hasil pertanian seperti sayuran, kemiri, cokelat, kopi, dan minyak atsiri akan mudah dipasarkan ke luar daerah maupun ke luar negeri.

“Kalau ini terwujud, maka masyarakat daerah ini akan makmur, karena perekonomian mereka sudah meningkat lantaran hasil bumi naik harganya dan mudah dipasarkan,” ujar Irwandi.

Terkait kerusakan sawah di Kecamatan Pining akibat banjir bandang tahun 2006 dan sampai kini belum juga diperbaiki, Gubernur Irwandi berjanji akan segera menangani masalah itu lewat program bakti TNI. Secara spontan “tawaran” Irwandi ini langsung disanggupi Pangdam IM Mayjen TNI Adi Mulyono yang duduk di sebelahnya.

Otsus terbesar
Dalam kesempatan itu Gubernur Irwandi mengatakan, Kabupaten Gayo Lues (Galus) merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang memperolah dana Otsus 2011 yang terbesar dibandingkan daerah lainnya. Ini semua bertujuan untuk membuat masyarakat sejahtera sekaligus untuk membantu pemerintah daerah dalam membangun sejumlah infrastruktur.

Mewakili tokoh agama, Teungku M Yusuf Maad mengusulkan kepada Gubernur Irwandi agar diprogramkan kembali pembangunan irigasi Aih Sejuk dan irigasi Aih Tilis. Pasalnya selama ini kedua bangunan irigasi tersebut sudah sering diusulkan masyarakat kepada pemerintah pusat, tapi belum ada realisasi.

Menanggapi hal itu, Gubernur Irwandi mengatakan, soal irigasi yang dikeluhkan itu akan diupayakan realisasinya dalam waktu dekat. Sementara itu, Amin, Kepala Mukim dari Kecamatan Pining mengusul agar segera dibangun jaringan handphone (tower hp) di daerah itu.

“Sementara tower hpnya belum ada, saya akan berikan dua hp satelit untuk masyarakat Pining. Yang satu di tangan camat, satu lagi di tangan kepala mukim. Hp ini akan dikirimkan segera,” jawab Gubernur.

Menuju Lokop
Berdasarkan jadwal terbaru, Gubernur Irwandi bersama Pangdam IM hari ini akan berkunjung ke Pining untuk melihat daerah pedalaman itu. Bahkan Gubernur yang didampingi istrinya, Darwati A Gani serta Pangdam IM berencana akan kembali ke Banda Aceh dengan menempuh jalur hutan belantara Pining-Lokop dan langsung tembus ke Peureulak, Aceh Timur. Untuk perjalanan bergaya adventure ini, rombongan telah menyiapkan chainsaw, senter, beras, dan logistik lainnya. (sup/c40)

Sumber : Serambinews.com

Pangdam IM Lepas Tim Ekspedisi Gunung Louser

Tue, Mar 8th 2011, 10:41

BLANGKEJEREN - Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Adi Mulyono, Senin (7/3) melepas tim ekspedisi bukit barisan Gunung Louser di lapangan Pancasila Blangkejeren. Pangdam mengatakan, kegiatan itu bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana kerusakan hutan louser selama ini, sehingga perlu dilakukan reboisasi kelak.

Kata Pangdam, lebih dari itu adalah untuk mengajak para akademisi baik dari Aceh maupun tingkat nasional untuk mengetahui sejauh mana sumber daya alam (SDA) gunung louser, serta mendeteksi flora dan fauna di kawasan hutan louser. Karena, katanya di hutan itu ada flora dan fauna yang tidak ada sama sekali di negara lain.

Lanjut Pangdam, setelah dilakukan dideteksi melalui tim ekspedisi lebih kurang dalam kurun waktu lima bulan, sehingga akan diketahui sejauh mana musnahnya flora dan faunan, serta kerusakan hutan yang terjadi selama ini. “Ini kegiatan yang pertama di Aceh melalui Aceh Louser, karena kawasan itu juga berada pada kawasan bukit barisan,”sebut Mayjen Adi Mulyono saat dikonfirmasi wartawan.

Secara terpisah Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, menanggapi hal itu, ekspedisi ini bukan untuk menangkap para pelaku illegal loging. Akan tetapi untuk mendeteksi sejauh mana SDA Gunung Louser serta keberadaan flora dan fauna yang ada di kawasan hutan gunung louser itu. “Kalau soal illegal logging tentu ada petugasnya melalui Polisi hutan (Polhut) yang sudah terbentuk sejak tahun 2007 lalu,”kata Irwandi Yusuf.

Sementara, regu ekspedisi dipimpin oleh Kapten Inf R Nasrul, kepada Serambi mengatakan, kegiatan itu diikuti sebanyak 155 orang yang melibatkan personel, akademisi dan masyarakat. Dirincikan, dari pusat 68 orang, sedangkan 87 orang dari Gayo Lues. Katanya, dari jumlah tersebut anggota Kopasus 38 orang, dari anggota Kostrad 11 orang, dari Ditop 1 orang, mahasiswa pusat 10 orang, Wanadri 5 orang, dari TV One 3 orang, serta dari Yonif 114/Galus 15 orang. Kasrem 4 orang, Hubrem 2 orang, anggota Kodim 0113/Galus 5 orang, dari Pemkab Galus 11 orang, dan dari Pemda Aceh 3 orang, selain itu anggota Polres Galus 5 orang, anggota PMI 2 orang, dari pengurus Walhi 1 orang dan mahasiswa Unsyiah 6 orang. Selanjutnya anggota Ranger 30 orang. “Kegiatan ini dipokuskan dalam penelitian yang terbagi dalam lima bidang, masing-masing yaitu pertama di bidang sosial, budaya, bencana, kehutanam, serta bidang flora dan fauna,”sebut Kapten Inf R Nasrul.(c40)

Sumber : Serambinews.com

Janji Gubernur, Jalan Bireuen-Takengon Siap Tahun Ini

* Di Samar Kilang Gubernur Serahkan Bantuan
Mon, Mar 7th 2011, 08:58

TAKENGON - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf berjanji akan menyelesaikan proyek pembangunan jalan Bireuen-Takengon dalam tahun 2011. Dengan siapnya jalan yang menjadi urat nadi perekonomian wilayah tengah Aceh ini diharapkan menjadi era baru dengan berakhirnya keterisoliran daerah yang sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga dengan cepat dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dataran tinggi Gayo.

“Saya berjanji dalam tahun 2011 ini jalan Bireuen-Takengon akan selesai dikerjakan. Dan saya akan minta kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh untuk memprioritaskan penyelesaian jalan ini,” kata Gubernur di hadapan Bupati Aceh Tengah Nasaruddin, serta ratusan tokoh masyarakat, alim ulama, dan unsur Muspida setempat, di Balai Ummi Takengon, Sabtu (5/3) malam.

Janji tersebut diutarakan Irwandi menanggapi permintaan Bupati Aceh Tengah Nasaruddin dalam acara silaturahmi yang berlangsung hampir 1,5 jam. Dikatakan Irwandi, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah merupakan daerah masa depan bagi Aceh yang memiliki sejumlah potensi pertanian, perkebunan, serta objek pariwisata alam. Karena itu sudah selayaknya jalan ke daerah ini harus dibenahi, sehingga para investor akan tertarik datang untuk menanam modalnya di sini. “Begitu juga para turis akan dengan mudah bisa datang menikmati panorama alam indah yang dimiliki daerah ini,” tambahnya.

Sebelumnya, Bupati Nasaruddin melaporkan, selain jalan Bireuen-Takengon, sejumlah ruas jalan kabupaten dan provinsi di Aceh Tengah juga dalam kondisi sangat memprihatinkan. Seperti jalan Takengon-Pamar Kecamatan Rusip Antara, jalan Takengon-Ise Ise, jalan Waq-Jamat, Pasar Angkop (Aceh Tengah)-Pante Raya (Bener Meriah), dan jalan Isak Kecamatan Linge-Jagong.

Karena dana yang miliki Aceh Tengah tidak mencukupi untuk menangani pembangunan jalan tersebut, Bupati Nasaruddin mengharapkan Pemerintah Aceh memperbaikinya.

Menanggapi permintaan pembangunan sejumlah ruas jalan tersebut, Gubernur Irwandi Yusuf, mengatakan pihaknya tidak bisa memastikan. Tetapi tetap akan berupaya dengan mencari dana dari berbagai sumber. “Saya akan upayakan dari dana hibah, itu pun kalau dana tersebut masih ada sisa. Kalau tidak akan dicari dengan sumber dana lainnya tahun depan,” ujar Irwandi Yusuf.

Selain membantu pembangunan sejumlah ruas jalan di daerah itu, Irwandi Yusuf juga akan membantu biaya pembangunan ruangan peralatan CT-Scan RSUD Datu Beru Takengon dengan dana hibah dan akan mempercepat proses pemekaran 27 kampung persiapan menjadi kampung defenitif pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah.

Di Bener Meriah
Sementara itu usai melakukan kunjungan ke daerah Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, Gubernur Irwandi Yusuf mengatakan, sebagian ruas jalan menuju daerah terpencil di Kabupaten Bener Meriah itu sekitar 5,8 kilometer telah diaspal. Namun, untuk menyelesaikan pembangunan jalan itu masih dibutuhkan biaya sekitar Rp 60 miliar lagi.

“Hasil dari pantauan saya tadi ke Samar Kilang, perkembanganya sudah cukup bagus tetapi masih butuh dana lagi untuk menyelesaikan ruas jalan menuju daerah terpencil itu. Diperkirakan dua tahun lagi pembangunan jalan menuju Samar Kilang akan selesai dikerjakan,” kata Gubernur Aceh yang didampingi oleh Bupati Bener Meriah Ir H Tagore Abubakar, ketika bertemu dengan sejumlah wartawan.

Pada kunjungannya ke Samar Kilang, Gubernur memberikan bantuan beras sebanyak 1,5 ton dan sejumah kain sarung kepada masyarakat setempat. Selain didampingi istrinya Darwati A Gani, kunjungan ke samar Kilang juga dihadiri Bupati Bener Meriah, Ir H Tagore Abubakar. (min/sup/c35)

Sumber : Serambinews.com