Tampilkan postingan dengan label Pembangunan jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembangunan jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

MDF Bangun Jalan di Aceh Rp330 M

WEDNESDAY, 15 JUNE 2011 15:14

BANDA ACEH - Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Aceh, Muhyan Yunan, mengatakan Multi Donor Fund (MDF) membiayai pembangunan jalan di Aceh dengan nilai Rp330 miliar.

"Panjang jalan yang dibangun itu mencapai 52 kilometer. Lokasinya antara Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Aceh Barat," kata dia di Banda Aceh.

Ia mengatakan, titik pembangunan jalan tersebut dimulai di ruas Jalan Banda Aceh-Meulaboh, KM 198 di Teunom, Kabupaten Aceh Jaya hingga sampai KM 250 di Meulaboh, Aceh Barat.

Pembangunan jalan yang dibagi tiga paket, kata dia, saat ini sedang dalam proses penetapan kontraktor pelaksananya. Penetapan pelaksana pekerjaan jalan tersebut ditentukan oleh MDF.

"Mungkin dalam bulan ini pemenangnya sudah ditetapkan. Dan diharapkan, pembangunan jalan tersebut selesai dalam waktu dua tahun," kata Muhyan.Ia mengatakan, dari total dana pembangunan jalan Rp330 miliar tersebut, sebesar Rp50 miliar di antaranya digunakan untuk pembangunan jembatan.

"Jembatan tersebut berada di Kuala Bubon, Aceh Barat. Panjang jembatannya mencapai 120 meter yang akan dikerjakan PT Waskita Karya," sebut dia.

Menyangkut ruas jalan Banda Aceh-Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, Muhyan mengatakan, pengerjaannya hampir selesai dilakukan. Jalan tersebut dibiayai USAID, lembaga donor asal Amerika Serikat.

"Ada titik-titik kritis di ruas jalan ini sedang diselesaikan. Seperti Jembatan Lambeuso, di Lamno, Aceh Jaya. Jembatan ini selesai Juli 2011," ujar Muhyan Yunan.

sumber Waspada.co.id

Senin, 18 April 2011

Pembangunan Jalan Lintas Tengah Tuntas Empat Tahun

* 2011 Dialokasikan Rp 620 Miliar
Tue, Mar 8th 2011, 11:19

BLANGKEJEREN - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan, sangatlah penting dan strategis untuk membangun dengan baik prasarana jalan lintas tengah Aceh. Sebab, dengan adanya jalan berkualitas baik yang menghubungkan dari dan ke wilayah tengah Aceh, maka masyarakat Dataran Tinggi Gayo akan merasa “merdeka”.

Menurutnya, untuk membangun jalan yang menghubungkan Bireuen-Takengon (Aceh Tengah)-Blangkejeren (Gayo Lues)-Kutacane (Aceh Tenggara)-Subulussalam dan sejumlah ruas lainnya di wilayah tengah, butuh dana sekitar Rp 1,8 triliun. “Untuk itu saya berjanji, jalan lintas tengah akan tuntas dalam empat tahun ke depan. Tapi programnya sudah dimulai dari tahun 2011 ini,” ucap Gubernur Irwandi di Pendapa Bupati Gayo Lues, Senin (7/3). Silaturahmi itu dihadiri ratusan tokoh masyarakat, tokoh adat, ulama, dan unsur muspida setempat.

Dalam acara ramah tamah itu Gurbernur Irwandi didampingi Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono, Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim, dan Ketua DPRK Gayo Lues H Muhammad Amru.

Irwandi kembali menegaskan bahwa wilayah tengah Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi cukup besar dan ia akan jadikan daerah itu sebagai Aceh masa depan. “Artinya, daerah ini dengan sumber daya alam yang dimilikinya, menjadi tumpuan perekonomian Aceh pada masa mendatang,” ujar pria kelahiran Bireuen ini.

Menanggapi permintaan tokoh masyarakat yang hadir dalam silaturahmi agar jalan di lintas tengah segera diperbaiki, menurut Irwandi, itu memang sudah menjadi program prioritasnya. Bahkan dalam dua tahun terakhir sudah mulai dilakukan. “Lihat saja jalan Takengon-Blangkejeren saat ini sudah semuanya diaspal, meskipun di sana-sini masih butuh peningkatan dan perbaikan,” ujarnya.

Bahkan untuk memperbaiki dan peningkatan kualitas jalan yang menghubungkan Blangkejeren-Kutacane itu, dalam tahun ini sudah dianggarkan dana Rp 50 miliar. “Saya sudah minta kepala dinas terkait untuk bekerja serius menyelesaikan proyek jalan Blangkejeren-Kutacane yang harus siap dalam tahun 2011 ini,” tegas Irwandi.

Dalam tahun ini, ungkapnya, untuk jalan lintas tengah seluruhnya sudah dianggarkan Rp 620 miliar. Dana sebesar itu termasuk untuk proyek jalan lintas Bireuen-Takengon (Aceh Tengah)-Blangkejeren (Gayo Lues)-Kutacane (Aceh Tenggara). Di samping itu, jalur Samarkilang (Bener Meriah)-Aceh Utara-Pining (Gayo Lues)-Lokop-Peureulak (Aceh Timur), dan Terangon (Gayo Lues)-Ie Mirah (Abdya).

Sedangkan kekurangan dana Rp 1,18 triliun lagi, kata Gubernur, akan diusahakan secara bertahap dalam tiga tahun anggaran. Pada tahun 2014 nanti seluruh jalan di lintas tengah yang menghubungkan pesisir dengan Dataran Tinggi Gayo tersebut sudah mulus. Dengan demikian, hasil pertanian seperti sayuran, kemiri, cokelat, kopi, dan minyak atsiri akan mudah dipasarkan ke luar daerah maupun ke luar negeri.

“Kalau ini terwujud, maka masyarakat daerah ini akan makmur, karena perekonomian mereka sudah meningkat lantaran hasil bumi naik harganya dan mudah dipasarkan,” ujar Irwandi.

Terkait kerusakan sawah di Kecamatan Pining akibat banjir bandang tahun 2006 dan sampai kini belum juga diperbaiki, Gubernur Irwandi berjanji akan segera menangani masalah itu lewat program bakti TNI. Secara spontan “tawaran” Irwandi ini langsung disanggupi Pangdam IM Mayjen TNI Adi Mulyono yang duduk di sebelahnya.

Otsus terbesar
Dalam kesempatan itu Gubernur Irwandi mengatakan, Kabupaten Gayo Lues (Galus) merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang memperolah dana Otsus 2011 yang terbesar dibandingkan daerah lainnya. Ini semua bertujuan untuk membuat masyarakat sejahtera sekaligus untuk membantu pemerintah daerah dalam membangun sejumlah infrastruktur.

Mewakili tokoh agama, Teungku M Yusuf Maad mengusulkan kepada Gubernur Irwandi agar diprogramkan kembali pembangunan irigasi Aih Sejuk dan irigasi Aih Tilis. Pasalnya selama ini kedua bangunan irigasi tersebut sudah sering diusulkan masyarakat kepada pemerintah pusat, tapi belum ada realisasi.

Menanggapi hal itu, Gubernur Irwandi mengatakan, soal irigasi yang dikeluhkan itu akan diupayakan realisasinya dalam waktu dekat. Sementara itu, Amin, Kepala Mukim dari Kecamatan Pining mengusul agar segera dibangun jaringan handphone (tower hp) di daerah itu.

“Sementara tower hpnya belum ada, saya akan berikan dua hp satelit untuk masyarakat Pining. Yang satu di tangan camat, satu lagi di tangan kepala mukim. Hp ini akan dikirimkan segera,” jawab Gubernur.

Menuju Lokop
Berdasarkan jadwal terbaru, Gubernur Irwandi bersama Pangdam IM hari ini akan berkunjung ke Pining untuk melihat daerah pedalaman itu. Bahkan Gubernur yang didampingi istrinya, Darwati A Gani serta Pangdam IM berencana akan kembali ke Banda Aceh dengan menempuh jalur hutan belantara Pining-Lokop dan langsung tembus ke Peureulak, Aceh Timur. Untuk perjalanan bergaya adventure ini, rombongan telah menyiapkan chainsaw, senter, beras, dan logistik lainnya. (sup/c40)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 06 April 2011

Wali Kota Minta Jalan Subulussalam-Agara Tembus

* Amdal Sudah Dilakukan
Mon, Feb 21st 2011, 10:09

BANDA ACEH - Wali Kota Subulusaalam, Merah Sakti SH mewakili masyarakatnya mengaku sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh untuk segera merealisir pembangunan ruas jalan tembus Gelombang-Meras Tulan sepanjang 50 kilometer. Ruas jalan ini kelak akan menghubungkan Kota Subulussalam dengan Aceh Tenggara (Agara).

Dengan dibangunnya jalan tersebut, kata Merah Sakti, bakal memperpendek jarak tempuh, sekaligus membuka isolasi bagi masyarakat Agara untuk memiliki akses langsung via darat ke daerah lainnya di Aceh.

Kepada Serambi di Banda Aceh, Minggu (20/2) kemarin, Wali Kota Merah Sakti mengatakan, pembangunan jalan tembus Gelombang (Subulussalam) dengan Meras Tulan (Agara) sangat diharapkan masyarakat kedua daerah ini untuk segera direalisasi pembangunnya oleh pemerintah.

Masyarakat Agara yang berada di Daratan Tinggi Alas itu, katanya, terkesan sangat terisolir dari daerah Aceh lainnya. Buktinya, kalau masyarakat Agara hendak bepergian ke Subulussalam dan Aceh Singkil harus melewati tiga kabupaten lainnya di Sumatera Utara, yaitu Tanah Karo, Dairi, dan Phak-Phak Barat, dengan lama perjalanan mencapai sepuluh jam lebih. Jarak tempuhnya hampir 350 kilometer. Belum lagi kondisi jalan di daerah perbatasan antara Agara dengan Sumut dan Subulussaalam-Sumut yang cukup parah kerusakannya. Malah kalau terjadi longsoran jalan di daerah dekat perbatasan yang masuk wilayah Sumut, kata Merah Sakti, dipastikan penanganannya cukup lama baru selesai. “Kejadian ini hampir setiap tahun kami alami,” katanya.

Keadaan inilah yang selama ini membuat masyarakat Agara terasa terasing dengan daerah Aceh lainnya. Untuk memperdekat hubungan masyarakat Agara dengan Aceh, harus segera bangun jalan tembus Gelombang-Meras Tulan yang jaraknya hanya 50 kilometer.

Untuk membangun jalan tersebut, kata Merah Sakti, tidak mampu dibiayai dengan APBA atau APBK. Oleh karenanya, harus menggunakan dana APBN. “Kami masyarakat Subulussalam dan Agara akan siap bersama-sama Pemerintah Aceh melakukan lobi ke pemerintah pusat agar jalan ini dibangun,” ujar Merah Sakti.

Amdal tahun 2009
Menurutnya, untuk pembangunan jalan ini, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal)-nya sudah dilakukan pembahasan tahun 2009 denga melibatkan Dinas BMCK Aceh, Bapedalda, Pemko Subulussalam, Pemkab Aceh Tenggara, dan sejumlah pihak lainnya. “Secara umum, tidak ada tjadi persoalan,” katanya.

Di samping itu, Merah Sakti juga meminta Pemerintah Aceh segera membangun kembali jalan Trumon-Krueng Luas-Rundeng yang menghubungkan Subulussalam-Aceh Selatan. Sebab, jalan itu sudah ada sejak zaman Belanda, bahkan Gubernur Aceh Prof Ali Hasjmy saat mengunjungi Subulussalam tahun 60-an melalui jalan tersebut. “Kalau jalan ini dibangun juga, maka akan membuka isolasi masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut. Mereka saat ini sangat terisolir dan hidup prihatinkan. Kami minta Pak Gubernur dapat melanjutkan program pembangunan jalan tersebut,” pinta Merah Sakti. (sup)

Sumber : Serambinews.com