Senin, 06 Desember 2010

Harimau Pemangsa Manusia Diboyong ke BKSDA

Wed, Dec 1st 2010, 14:26


Seekor Harimau yang diduga pemangsa manusia diamankan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banda Aceh, Selasa, (30/11). FOTO HENDRA SAPUTRA

BANDA ACEH - Harimau pemangsa manusia yang tertangkap di Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (30/11) diboyong ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Harimau jantan tersebut ditangkap setelah memangsa Martunis (25), warga Desa Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, Senin (11/10) lalu.

Pawang harimau, Syarwani Sabi menyebutkan, harimau jantan yang berusia 9 tahun itu ditangkap karena telah menimbulkan keresahan warga setelah memangsa Martunis. Seperti diketahui pemuda lajang itu ditemukan dengan posisi tubuh tercabik-cabik. Bahkan isi perut terburai yang diyakini saat itu akibat diterkam harimau saat mencari rotan di kawasan Gunung Tuan, sekitar 15 kilometer dari perkampungan, Senin 11 Oktober 2010 lalu. Menurut Syarwani, warga tidak dapat lagi melakukan aktivitas seperti biasa akibat si raja hutan tersebut sering keluar masuk permukiman.”Bila telah memangsa satu orang, maka biasanya harimau itu akan kembali memangsa manusia,” kata Syarwani.

Sementara Kepala BKSDA Aceh, Abu Bakar Cekmat, mengatakan harimau yang telah tiba di BKSDA itu selanjutnya akan diidentifikasi sebelum dilepaskan kembali ke habitannya. Menurutnya penyebab turunnya satwa liar seperti harimau dan gajah ke permukiman warga diakibat oleh banyaknya penambangan liar yang dilakukan di sejumlah pergunungan Aceh. Merasa habitatnya terganggu dan semakin kurang tempat berlindung sebut Abu Bakar, sehingga turunlah satwa liar itu ke permukiman warga. “Setelah diusir ke gunung atau hutan belantara, satwa liar itu tetap turun lagi ke permukiman warga. Kondisi ini diakibatkan masih banyaknya kegiatan illegal logging yang berlangsung di pergunungan Aceh,” sebut Abu Bakar.

Menurutnya selama tahun 2010, BKSDA Aceh mencatat tidak kurang 16 kasus telah terjadi konflik satwa liar dengan manusia. Seperti diberitakan Martunis (25), warga Desa Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (12/10) sekitar pukul 09.00 WIB ditemukan dengan posisi tubuh tercabik-cabik.(mir)

Sumber : Serambinews.com

BUMN Salurkan Rp 6,3 Miliar Dana Kemitraan

* Diterima 6.000 Usaha Kecil di Aceh
Wed, Dec 1st 2010, 12:00

BANDA ACEH - Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Aceh, tahun ini menyalurkan dana Program Kemitraan (PK) sebanyak Rp 6,3 miliar untuk 6.000 usaha kecil mitra BUMN. Pemberian dana bergulir tersebut dimaksudkan agar usaha kecil bisa berkembang dan lebih mandiri.

Koordinator Pembina Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN Aceh, Ir Siswadi didampingi Asisten Deputi Bidang PKBL, Ir Hanifah Affan, usai Rapat Koordinasi PKBL di Aula Kantor PLN Wilayah Aceh, Senin (29/11) malam mengatakan, PKBL dalam kiprahnya kepada masyarakat selalu memberi bantuan usaha permodalan kepada mitranya.

“Bantuan PKBL kita berikan sejak dulu, sebelum tsunami. Tahun 2010 ini, untuk Program Kemitraan (PK), dana bergulir yang kita salurkan Rp 6,3 miliar. Dana bergulir ini diberikan kepada sekira 6.000 mitra kita. Per orang itu mendapatkan sekira Rp 10 juta dan mengembalikannya satu hingga tiga tahun,” kata Siswadi.

Dia menyebutkan, mitra BUMN terdiri dari sektor industri, perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, jasa UKM dan koperasi. “Rencananya nanti PKBL BUMN Aceh akan memberikan bantuan secara cluster (pengelompokan usaha), tidak per orang lagi agar lebih mudah dikontrol,” tambahnya.

Hanifah Affan menimpali, khusus Bina Lingkungan (BL) tahun 2010 ini PKBL telah menganggarkan dana hibah sebesar Rp 3,1 miliar yang disalurkan di seluruh Aceh secara triwulan. “Kalau PK itu dalam bentuk dana bergulir diberikan ke mitra BUMN Aceh, tapi kalau BL itu dana hibah yang diberikan pada pembangunan prasarana umum, korban bencana alam, pendidikan dan pelatihan, peningkatan kesehatan, pembagunan rumah ibadah, dan pelestarian lingkungan,” katanya.

Ia menyebutkan, di Aceh terdapat 25 BUMN, yaitu PTPN I, PT BNI TBK, PT BRI TBK, PT Bank Mandiri TBK, PT Bank Tabungan Negara, PT Pertamina, PT Telkom TBK, PT Pelindo I, PT Jamsostek, PT Jasa Raharja, PT PIM, PT Angkasa Pra II, PT PLN Wilayah I Aceh, PT Askrindo, PT Askes, PT Posindo, PT Taspen, Perum Pegadaian, PT Asuransi Jasa Raharja, PT KKA, PT Asabri, PT Garuda Indonesia, PT Waskita Karya, PT PNM, dan Perum Perumnas.(c47)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 02 Desember 2010

Gubernur Lantik 54 PPNS

Tue, Nov 30th 2010, 15:01

BANDA ACEH - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Hukum, Marwan Sufi SH melantik 54 orang PNS dari berbagai Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), menjadi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Pelantikan berlangsug di Gedung Serbaguna Setda Aceh, Senin (29/11). Dari 54 PPNS tersebut, satu diantaranya adalah Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Aceh, Cipta Hunai.

Marwan Sufi mengatakan, pelantikan 54 PPNS itu merupakan tuntutan dan implementasi UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Adapun tugas dan kewajiban PPNS berdasarkan SK Menteri Kehakiman Nomor: M-05.PW.07.03 tahun 1984, kata Marwan, mencakup menerima pengaduan, melakukan pemeriksaan, dan mengadakan tindakan hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

Marwan Sufi menagtakan, seorang PPNS harus bekerja secara profesional. dan memahami dengan baik bidang pekerjaan yang ditekuninya. Karena itu, pembenahan terhadap eksistensi PPNS sangat penting dilakukan, agar pelaksanaan tugas pokok penyidikan lebih optimal.

Untuk itu, tambah marwan Sufi, dalam melakukan perekrutan diupayakan harus memenuhi standar yang dipersyaratkan. Hal ini perlu ditegaskan, karena tantangan dalam penugasan PPNS di lingkungan pemerintah daerah semakin hari semakin kompleks dan mengandung risiko tinggi.

Sesuai amanat Pasal 13 dan 14 UU Nomor 32 tahun 2004, bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota yaitu penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, serta penyelenggaraan penegakan peraturan daerah atau qanun. Demikian juga dengan Pasal 133, 134, dan 245 UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang mengakomodir tentang keberadaan PPNS di Aceh sebagai pejabat yang melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap qanun.

Untuk itu, Marwan Sufi berharap PPNS yang baru dilantik harus tetap memelihara koordinasi dengan instansi terkait dalam melaksanakan tugas, arif dan sabar serta tidak mudah terprovokasi kelompok atau perorangan, menjadi teladan bagi masyarakat, serta harus mampu menjaga dan meningkatkan wibawa Pemerintah Aceh di mata masyarakat.

Sumber : Serambinews.com

Presiden : Arah Pembangunan Aceh Sudah Tepat

* Pemimpin tak Boleh Abaikan Lingkungan
Tue, Nov 30th 2010, 10:53


Kursi Perdamaian

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersenyum saat duduk di Kursi Perdamaian Aceh didampingi Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf serta sejumlah pejabat negara lainnya seusai penyerahan 125.000 bibit trambesi, pencanangan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), dan Penyerahan Kursi Perdamian untuk Presiden SBY dari Gubernur Aceh, di Desa Tibang, Banda Aceh Senin (29/11). Kursi ini dibuat oleh Malio Adnan, dari Aceh Tengah. SERAMBI/HERIANTO


BANDA ACEH - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, arah pembangunan Aceh yang digagas Gubernur Irwandi Yusuf bersama Wagub Muhammad Nazar, DPRA, para bupati/wali kota dan DPRK, serta unsur muspida lainnya yang peduli lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat, sudah tepat dan benar.

“Arah pembangunan ini perlu terus dilanjutkan untuk mencapai masyarakat Aceh yang sejahtera, adil, makmur, dan bermartabat,” imbuh Kepala Negara pada acara penyerahan 125.000 pohon trembesi, pencanangan Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), dan penyerahan kursi perdamaian Aceh dari Gubernur Irwandi kepada Presiden SBY di lokasi Hutan Kota BNI, Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Senin (29/11) sore.

Menurut Presiden SBY, Pemerintahan Aceh di bawah kepemimpinan Irwandi-Nazar cukup tanggap merespons dan menerjemahkan implementasi program nasional di tingkat lokal. Umpama, Program Jamkesmas direspons dalam bentuk JKA di Aceh. PNPM diterjemahkan ke dalam bentuk Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong dan Alokasi Dana Gampong (BKPG/ADG). Demikian pula dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ditindaklanjuti di Aceh dengan bantuan pendidikan bagi anak yatim piatu dan anak fakir miskin. Semua inilah yang diklaim Presiden SBY sudah tepat, karena sejalan dengan arah pembangunan nasional.

SBY juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Irwandi yang, menurut penilaiannya, sangat peduli pada lingkungan dan juga serius menindaklanjuti program kesehatan nasional dalam kebijakan daerah, sehingga jumlah masyarakat yang terlayani secara medis menjadi lebih banyak lagi.

Contohnya, memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat miskin. Kementerian Kesehatan bikin Program Jamkesmas, disambut Pemerintah Aceh dengan membuat program yang sama, yaitu JKA. Jamkesmas memberi pelayanan berobat gratis kepada 2,6 juta penduduk Aceh, ditambah program JKA dengan target 3,8 juta orang, termasuk TNI/Polri dan Askes 500.000 orang, akhirnya 4,4 juta Penduduk Aceh sudah mendapat pelayanan berobat gratis dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

Program yang dilakukan Pemerintah Aceh itu, menurut Presiden, di Indonesia baru dilakukan di dua provinsi, yakni Bali dan Aceh. “Kita berharap, program yang dibuat Gubernur Irwandi Yusuf dan Wagub Muhammad Nazar bersama DPRA-nya ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang belum melakukannya. Kesehatan merupakan tugas wajib dalam pemerintahan, maka jika ada daerah yang telah memberikan pengobatan gratis kepada masyarakatnya, maka daerah itu telah membantu program nasional, untuk mengurangi angka kematian bayi dan ibu melahirkan, untuk mencapai MDGs,” ujarnya.

Presiden juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Irwandi yang telah menyerahkan kursi perdamaian kepadanya. SBY menyatakan, anugerah “kursi perdamaian” itu akan diserahkannya untuk semua orang yang berjasa dalam perdamaian Aceh.

Tak boleh lalai
Dalam amanatnya, Presiden SBY mengingatkan agar siapa pun yang jadi pemimpin tidak boleh lalai pada lingkungan. Kalau pemimpinnya lalai pada lingkungan, berarti ia menyiapkan bom waktu bagi anak cucunya di masa depan dengan mewariskan bencana banjir, tanah longsor, dan lainnya.

“Pemimpin yang peduli dan cinta pada lingkungan, harus turun langsung memberi contoh kepada masyarakatnya dengan menanam pohon. Ini berarti ia mewariskan lingkungan yang lestari, indah, dan nyaman bagi anak cucuknya di kemudian hari,” kata Presiden.

Hal lain yang juga penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, kata SBY, tidak hanya menanam pohon atau yang secara nasional dikenal dengan Gerakan Menanam 1 Miliar Pohon. Tapi juga menjaga hutan dari aksi pembabatan, penggundulan, pembakaran, dan illegal logging. “Semua itu merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan sebagai upaya kita untuk mewariskan lingkungan yang bersih, sejuk, aman dari polusi CO2 dan pemanasan global kepada gererasi berikutnya,” ujar Presiden.

Kepala Negara juga menyerukan kepada seluruh komponen bangsa dan masyarakat untuk terus menjaga kelestarian hutan dan melawan serta memerangi jika ada orang dan kelompok yang membabat dan menebang hutan.

Program penyaluran bantuan 42 juta biji trambesi dan gerakan menanam 1 miliar batang pohon yang telah dicanangkannya secara simbolis di Bendungan Jati Luhur, menurut SBY, adalah bagian dari upaya untuk mengatasi pemanasan gelobal dan mewariskan lingkungan yang hijau dan sejuk kepada anak cucuk di masa datang, termasuk apa yang telah dilakukan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wakil Gubernur Muhammad Nazar, unsur Muspida bersama seluruh komponen masyarakat di Aceh yang akhir-akhir ini sangat peduli pada lingkungan.

Tentang trembesi, SBY mengatakan, satu pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2. Kalau 125.000 pohon trambesi yang dibagikan untuk Kota Aceh semuanya bisa hidup dan tumbuh menjadi pohon yang besar di lahan bekas tsunami dan lainnya, maka Kota Banda Aceh akan semakin hijau, indah, nyaman, dan sejuk. “Contohnya, Singapura dan Kuala Lumpur, kotanya terlihat indah, sejuk, dan nyaman, karena di tengah kotanya banyak ditanami pepohonan nan hijau,” ujar SBY.

Jaga perdamaian
Di akhir pidotonya, Presiden SBY mengamanatkan kepada seluruh komponen masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia, untuk terus menjaga perdamaian Aceh yang telah diperoleh dengan susah payah dan penuh pengorbanan itu. Masyarakat Aceh dan seluruh komponen bangsa Indonesia, harus menjaga perdamaian ini dari orang-orang dan pihak-pihak yang ingin mengoyaknya kembali.

Perdamaian Aceh, kata SBY, merupakan prasyarat dan prakondisi bagi Aceh untuk membangun daerahnya menjadi lebih baik. Gubernur Irwandi Yusuf dalam pidatonya mengatakan, rakyat Aceh mendukung sepenuhnya misi pemerintah untuk melestarikan hutan Aceh sebagai salah satu paru-paru dunia. Program moratorium logging, Aceh Green Vision, bukan sekadar menjaga kelestarian hutan yang sudah ada, tapi juga turut menghijaukan kembali hutan yang rusak.

Contohnya, memberikan kawasan seluas 6,5 hektare (ha) di Desa Tibang sebagai Kawasan Hutan Kota oleh Pemko Banda Aceh kepada BNI untuk membangunnya. Ini merupakan bagian dari Program Aceh Green.

Sementara itu, pihak BNI dalam siaran pers menerangkan bahwa hutan kota itu luasnya 6,5 ha. Akan ditanami dengan 67 jenis pohon. Antara lain pohon jati, mahoni trembesi, mangga, jeruk, nangka, tanaman keras khas Aceh yang telah langka, dan lain-lain.

Untuk menghijaukan dan membangun lahan seluas 6,5 ha dengan berbagai fasilitas, misalnya, tempat jogging, jembatan kecil, dan lainnya dibutuhkan dana Rp 5 miliar. Dari dana yang dibutuhkan itu, sudah direalisasikan BNI dari sumber dana CSR BNI Go Green sekitar Rp 1,7 miliar. Pembangunan hutan kota di lahan seluas 6,5 ha itu ditangani Pemko Banda Aceh, Yayasan Bustanussalatin, dan BNI.

Acara penyerahan 125.000 pohon trembesi dari Presiden SBY kepada Gubernur itu dihadiri Direktur BNI Sutanto, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, Wakil Ketua MPR Ahmad Farhan Hamid, Menpora Andi Malarangeng, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, sejumlah anggota DPR RI, Ketua DPRA Drs Hasbi Abdullah, Panglima Kodam Iskandar Muda Myjen TNI Adi Muliono, Kapolda Irjen Pol Fajar Prihantoro, Kajati Muhammad Yusni, PNS, guru, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan ribuan anak sekolah.

Pagi ini Presiden SBY akan bertolak dari Banda Aceh menuju Pidie untuk membuka Perkemahan Wirakarya Nasional 2010 di Scout Camp, Seulawah, sebuah kawasan pegunungan di Kecamatan Muara Tiga, Pidie. Perkemahan Pramuka ini dihadiri lebih dari 6.500 peserta se-Indonesia, termasuk dari luar negeri. (her)

sumber : Serambinews.com

Selasa, 30 November 2010

Gerakan Aceh Hijau

Jasman J Ma’ruf - Opini

Mon, Nov 29th 2010, 09:23
GERAKAN menanam pohon telah mendunia. Tingginya minat masyarakat dalam hal penanaman pohon dalam rangka konservasi hutan ini ditunjukkan oleh semakin populernya gerakan mananam pohon di berbagai negara, di berbagai kalangan, dan muncul pula berbagai komunitas yang melibatkan diri dalam membantu penyelamatan lingkungan.

Kepopuleran penanaman pohon secara global, ditandai oleh disepakatinya hari menanam pohon sedunia yang jatuh pada tanggal 21 November setiap tahunnya, dan setiap negara juga memiliki tanggal tertentu yang dijadikan hari menanam pohonnya.

Hari menanam pohon di Amerika Serikat telah dikenal dengan “Arbor Day” yang dirayakan setiap Jumat ke empat bulan April. “Arbor Day”, pertama sekali dilaksanakan Nebraska pada tahun 1872, dan barulah secara formal dilaksanakan sebagai hari menanam pohon peringkat nasional sejak 1920-an. Sementara itu, hari menanam pohon di Australia dan New Zerland ditetapkan 5 Juni, yang juga dikenal dengan hari lingkungan hidup sedunia. Sedangkan Afrika Selatan menetapkan hari penanaman pohon selama seminggu yang dikenal dengan “Arbor Week”, yang pelaksanaannya dilakukan dari tanggal 1 hingga 7 September.

Jika kita perhatikan penetapan hari menanam pohon di berbagai negara, maka dapat disimpulkan, hari menanam pohon ini dilaksanakan di sepanjang tahun. Misalnya, Israel dan Tanzania merayakannya pada bulan Januari. Sementara itu, Belgia, Cina, Iran, Lesotho, Portugal, Republik Macedonia dan Uganda merayakannya pada bulan Maret. Berikutnya, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jerman, dan Kenya merayakan hari penanam pohon nasionalnya pada April. Selanjutnya, Jepang, Canada dan Venezuela merayakannya pada bulan Mei. Negara Australia, Kamboja, Costa Rica, New Zerland dan Philiphina merayakan pada bulan Juni. Pada bulan Juli, hari menanam pohon dirayakan Republik Afrika Tengah dan Mexico. Sementara itu, Nigeria merayakannya pada bulan Agustus. Hari menanam pohon di Brazil, Belanda dan Korea Selatan dirayakan bulan September. Sedangkan Polandia dan Sri langka merayakannya bulan Oktober. Sementara itu, Indonesia menetapkan hari menanam pohon nasional pada bulan November. Dan, pada bulan Desember, hari menanam pohon dirayakan di Inggris dan Malawi.

Konteks Indonesia
Di Indonesia, dalam upaya memasyarakatkan gerakan menanam dan memelihara pohon secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 28 November sebagai Hari menanam Pohon Indonesia. Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai awal dimulainya penanaman pohon serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan menanam pohon tersebut dilanjutkan dengan penetapan kegiatan menanam pohon selama bulan Desember, sebagai Bulan Menanam Pohon Nasional.

Upaya menumbuhkan budaya menanam di masyarakat Indonesia dilakukan Kementrian Kehutanan melalu berbagai program penanaman. Tercatat program yang telah dilaksanakan antara lain, Aksi Penanaman Serentak Indonesia (tahun 2007 dan 2008), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (tahun 2007), Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (tahun 2008, serta Satu Orang Satu Pohon (One Man On Tree- 2009). Keberhasilan seluruh program tersebut memacu pemerintah untuk meluncurkan program Penanaman 1 miliar pohon tahun 2010 dengan motto “Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia” atau “One Billion Indonesian Trees for the World”.

Aceh Green
Dalam konteks Aceh, begitu Gubernur Irwandi Yusuf terpilih pada tahun 2006, ia langsung memperkenalkan kebijakan menjaga kelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Bulan Maret 2007, Gubernur Irwandi Yusuf menyatakan moratorium penebangan semua jenis pohon di Aceh, dan Desember 2007 di “UN Framework Convention for Climate Change” di Bali, Gubernur Irwandi meluncurkan rencana pembangunan ekonomi dan investasi hijau untuk Aceh yang dikenal dengan Aceh Green (Aceh Hijau).

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf juga telah terpilih secara aklamasi oleh para gubernur/kepala negara bagian dari berbagai negara yang tergabung dalam Governor’s Climate and Forest (GCF) sebagai ketua untuk memimpin para gubernur dari berbagai negara dalam isu hutan dan perubahan iklim pada tahun 2011. Mendukung posisi Gubernur Aceh dan visi Aceh Green yang selama ini beliau sampaikan, baik bersifat kebijakan maupun tindakan, maka Aceh harus memanfaatkan momentum Hari Menanam Pohon Nasional sebagai gerakan bersama saling bahu membahu untuk mewujudkan Aceh yang hijau dan indah. Dan pada tahap berikutnya, terwujudnya “Aceh yang hijau nan indah dan sejahtera”. Dengan dilaksanakan penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan dapat mengurangi pemanasan global.

Penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan juga diharapkan dapat mencapai pembangunan Aceh yang bersih. Ia juga diharapkan dapat mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan absorbs gas CO2, SO2, dan polutan lainnya, mencegah banjir, kekeringan, dan tanah longsor, meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam dan memelihara tanaman sebagai bagian dari sikap atau budaya bangsa yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

Hijau itu Indah
Dengan melihat fenomena kecintaan setiap insan di seluruh pelosok dunia akan negeri yang hijau, telah membuktikan bahwa hijau itu memang indah seperti yang ditegaskan Allah swt dalam Alquran Surah Al An’am ayat 9, yang artinya, “lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tumbuhan yang hijau”. Sementara itu, dalam Surah An-Naml ayat 60 yang artinya, “...,lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya”.

Dari kedua firman Allah tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah swt menumbuhkan pohon-pohon yang menghijau, dan dari tanaman yang menghijau tersebut menghadirkan pemandangan yang indah. Ya, hijau itu indah, dan kecintaan terhadap keindahan adalah suatu hal yang manusiawi. Mari hijaukan negeri ini!

* Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Gerakan Aceh Hijau

Jasman J Ma’ruf - Opini

Mon, Nov 29th 2010, 09:23
GERAKAN menanam pohon telah mendunia. Tingginya minat masyarakat dalam hal penanaman pohon dalam rangka konservasi hutan ini ditunjukkan oleh semakin populernya gerakan mananam pohon di berbagai negara, di berbagai kalangan, dan muncul pula berbagai komunitas yang melibatkan diri dalam membantu penyelamatan lingkungan.

Kepopuleran penanaman pohon secara global, ditandai oleh disepakatinya hari menanam pohon sedunia yang jatuh pada tanggal 21 November setiap tahunnya, dan setiap negara juga memiliki tanggal tertentu yang dijadikan hari menanam pohonnya.

Hari menanam pohon di Amerika Serikat telah dikenal dengan “Arbor Day” yang dirayakan setiap Jumat ke empat bulan April. “Arbor Day”, pertama sekali dilaksanakan Nebraska pada tahun 1872, dan barulah secara formal dilaksanakan sebagai hari menanam pohon peringkat nasional sejak 1920-an. Sementara itu, hari menanam pohon di Australia dan New Zerland ditetapkan 5 Juni, yang juga dikenal dengan hari lingkungan hidup sedunia. Sedangkan Afrika Selatan menetapkan hari penanaman pohon selama seminggu yang dikenal dengan “Arbor Week”, yang pelaksanaannya dilakukan dari tanggal 1 hingga 7 September.

Jika kita perhatikan penetapan hari menanam pohon di berbagai negara, maka dapat disimpulkan, hari menanam pohon ini dilaksanakan di sepanjang tahun. Misalnya, Israel dan Tanzania merayakannya pada bulan Januari. Sementara itu, Belgia, Cina, Iran, Lesotho, Portugal, Republik Macedonia dan Uganda merayakannya pada bulan Maret. Berikutnya, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jerman, dan Kenya merayakan hari penanam pohon nasionalnya pada April. Selanjutnya, Jepang, Canada dan Venezuela merayakannya pada bulan Mei. Negara Australia, Kamboja, Costa Rica, New Zerland dan Philiphina merayakan pada bulan Juni. Pada bulan Juli, hari menanam pohon dirayakan Republik Afrika Tengah dan Mexico. Sementara itu, Nigeria merayakannya pada bulan Agustus. Hari menanam pohon di Brazil, Belanda dan Korea Selatan dirayakan bulan September. Sedangkan Polandia dan Sri langka merayakannya bulan Oktober. Sementara itu, Indonesia menetapkan hari menanam pohon nasional pada bulan November. Dan, pada bulan Desember, hari menanam pohon dirayakan di Inggris dan Malawi.

Konteks Indonesia
Di Indonesia, dalam upaya memasyarakatkan gerakan menanam dan memelihara pohon secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 28 November sebagai Hari menanam Pohon Indonesia. Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai awal dimulainya penanaman pohon serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan menanam pohon tersebut dilanjutkan dengan penetapan kegiatan menanam pohon selama bulan Desember, sebagai Bulan Menanam Pohon Nasional.

Upaya menumbuhkan budaya menanam di masyarakat Indonesia dilakukan Kementrian Kehutanan melalu berbagai program penanaman. Tercatat program yang telah dilaksanakan antara lain, Aksi Penanaman Serentak Indonesia (tahun 2007 dan 2008), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (tahun 2007), Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (tahun 2008, serta Satu Orang Satu Pohon (One Man On Tree- 2009). Keberhasilan seluruh program tersebut memacu pemerintah untuk meluncurkan program Penanaman 1 miliar pohon tahun 2010 dengan motto “Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia” atau “One Billion Indonesian Trees for the World”.

Aceh Green
Dalam konteks Aceh, begitu Gubernur Irwandi Yusuf terpilih pada tahun 2006, ia langsung memperkenalkan kebijakan menjaga kelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Bulan Maret 2007, Gubernur Irwandi Yusuf menyatakan moratorium penebangan semua jenis pohon di Aceh, dan Desember 2007 di “UN Framework Convention for Climate Change” di Bali, Gubernur Irwandi meluncurkan rencana pembangunan ekonomi dan investasi hijau untuk Aceh yang dikenal dengan Aceh Green (Aceh Hijau).

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf juga telah terpilih secara aklamasi oleh para gubernur/kepala negara bagian dari berbagai negara yang tergabung dalam Governor’s Climate and Forest (GCF) sebagai ketua untuk memimpin para gubernur dari berbagai negara dalam isu hutan dan perubahan iklim pada tahun 2011. Mendukung posisi Gubernur Aceh dan visi Aceh Green yang selama ini beliau sampaikan, baik bersifat kebijakan maupun tindakan, maka Aceh harus memanfaatkan momentum Hari Menanam Pohon Nasional sebagai gerakan bersama saling bahu membahu untuk mewujudkan Aceh yang hijau dan indah. Dan pada tahap berikutnya, terwujudnya “Aceh yang hijau nan indah dan sejahtera”. Dengan dilaksanakan penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan dapat mengurangi pemanasan global.

Penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan juga diharapkan dapat mencapai pembangunan Aceh yang bersih. Ia juga diharapkan dapat mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan absorbs gas CO2, SO2, dan polutan lainnya, mencegah banjir, kekeringan, dan tanah longsor, meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam dan memelihara tanaman sebagai bagian dari sikap atau budaya bangsa yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

Hijau itu Indah
Dengan melihat fenomena kecintaan setiap insan di seluruh pelosok dunia akan negeri yang hijau, telah membuktikan bahwa hijau itu memang indah seperti yang ditegaskan Allah swt dalam Alquran Surah Al An’am ayat 9, yang artinya, “lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tumbuhan yang hijau”. Sementara itu, dalam Surah An-Naml ayat 60 yang artinya, “...,lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya”.

Dari kedua firman Allah tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah swt menumbuhkan pohon-pohon yang menghijau, dan dari tanaman yang menghijau tersebut menghadirkan pemandangan yang indah. Ya, hijau itu indah, dan kecintaan terhadap keindahan adalah suatu hal yang manusiawi. Mari hijaukan negeri ini!

* Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Pengurangan Risiko Bencana Program Prioritas Pemerintah

Sun, Nov 28th 2010, 15:48

BANDA ACEH - Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, penanggulangan dan pengurangan risiko bencana termasuk program prioritas Pemerintah Aceh. Karena Aceh daerah rawan bencana, seperti tsunami, gempa, longsor, banjir bandang dan berbagai bentuk bencana lain.

Menurut Nazar, pihaknya mulai mengarahkan bahwa sekarang bukan hanya sekedar menyiapkan logistik, makanan dan obat-obatan. Tetapi justru pengurangan risikonya, misalnya ingin mendidik masyarakat supaya memahami resiko bencana dengan benar dan jangan melihat bencana dalam perspektif yang salah.

“Perlu dijadikan musibah sebagai pelajaran, karena itu alamiah. Ketika bencana, kita harus menemukan sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan lain-lain. Bukan trauma yang berkepanjangan,” ujar Wagub kepada Serambi usai mengisi materi dalam Workhop Komunikasi Organisasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Untuk Pengurangan Risiko Bencana yang digelar 27-28 November di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.

Kata Wagub, untuk daerah Aceh dalam rangka mendidik masyarakat, maka perlu membuat modul yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah. Tahun depan, pihaknya akan lebih mendorong dan merintis supaya di Universitas Syiah Kuala bisa membuat sistem pengurangan bencana di program S2-nya.

“Dengan PMI pun kita ajak dan kita dorong supaya memperbanyak gampong siaga bencana untuk mendidik masyarakat sehingga banyak yang paham. Meningkatkan kualitas masyarakat memahami bencana, merespons bencana dengan baik, menangani bencana dengan baik sehingga risikonya lebih kecil,” ujar Wagub.

Sementara Ketua PMI Cabang Banda Aceh Qamaruzzaman Haqny mengatakan, hingga kini sudah ada 21 gampong siaga bencana dan 27 sekolah siaga bencana di Banda Aceh. Pihaknya sudah melatih masyarakat dan pelajar tentang siaga bencana. Pihaknya juga menyatakan siap menambah jumlah gampong siaga bencana dari Banda Aceh.(hd)

Sumber : Serambinews.com