Tue, Mar 22nd 2011, 08:17
BANDA ACEH - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Aceh, Ir Fakhruddin Polem mengatakan, untuk menjaga supaya tidak ada penebangan kayu dan kelestarian hutan tetap terjamin keberlangsungannya, maka pemberdayaan masyarakat sekitar hutan mutlak harus dilakukan.
Untuk itu dinas yang dipimpinnya itu akan meluncurkan program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam waktu dekat. “Kita akan memberikan bantuan bibit tanaman yang bernilai ekomonis bagi mereka,” kata Fakhruddin kepada Serambi, Senin (21/3).
Bila program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan yang dilakukan secara bersinambungan berjalan optimal, Fakhruddin yakin, hutan di Aceh akan menjadi lestari dan terjaga dari kerusakannya.
“Kami menyadari kalau selama ini masyarakat sekitar hutan agak kurang mendapat perhatian. Karena itu, Pak Gubernur sudah meminta kami untuk membuat program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan,” katanya.
Disebutkan dia, bantuan bibit tanaman yang bernilai ekonomis tinggi yang akan diberikan pada masyarakat sekitar hutan meliputi, karet, coklat, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Termasuk memberi bantuan sarana pertanian untuk mendukung program tersebut.
KBR
Disamping itu, Dishutbun Aceh saat ini sedang gencar melakukan gerakan memperbaiki lingkungan. Untuk mendukung program tersebut, Dishutbun telah membangun sebanyak 284 unit Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Setiap KBR tersedia minimal 50.000 batang bibit tanaman seperti, mahoni, sentang, durian, kemiri, pinus, dan jabon.
“Program ini juga dalam rangka mendukung aksi dunia terkait mengantisipasi pemanasan global. Kalau tidak kita yang mengantisipasi persoalan suhu yang semakin panas belakangan ini, siapa lagi,” tandasnya.(sup)
Sumber : Serambinews.com
Tampilkan postingan dengan label Mitigasi Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitigasi Bencana. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Mei 2011
Selasa, 30 November 2010
Pengurangan Risiko Bencana Program Prioritas Pemerintah
Sun, Nov 28th 2010, 15:48
BANDA ACEH - Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, penanggulangan dan pengurangan risiko bencana termasuk program prioritas Pemerintah Aceh. Karena Aceh daerah rawan bencana, seperti tsunami, gempa, longsor, banjir bandang dan berbagai bentuk bencana lain.
Menurut Nazar, pihaknya mulai mengarahkan bahwa sekarang bukan hanya sekedar menyiapkan logistik, makanan dan obat-obatan. Tetapi justru pengurangan risikonya, misalnya ingin mendidik masyarakat supaya memahami resiko bencana dengan benar dan jangan melihat bencana dalam perspektif yang salah.
“Perlu dijadikan musibah sebagai pelajaran, karena itu alamiah. Ketika bencana, kita harus menemukan sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan lain-lain. Bukan trauma yang berkepanjangan,” ujar Wagub kepada Serambi usai mengisi materi dalam Workhop Komunikasi Organisasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Untuk Pengurangan Risiko Bencana yang digelar 27-28 November di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.
Kata Wagub, untuk daerah Aceh dalam rangka mendidik masyarakat, maka perlu membuat modul yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah. Tahun depan, pihaknya akan lebih mendorong dan merintis supaya di Universitas Syiah Kuala bisa membuat sistem pengurangan bencana di program S2-nya.
“Dengan PMI pun kita ajak dan kita dorong supaya memperbanyak gampong siaga bencana untuk mendidik masyarakat sehingga banyak yang paham. Meningkatkan kualitas masyarakat memahami bencana, merespons bencana dengan baik, menangani bencana dengan baik sehingga risikonya lebih kecil,” ujar Wagub.
Sementara Ketua PMI Cabang Banda Aceh Qamaruzzaman Haqny mengatakan, hingga kini sudah ada 21 gampong siaga bencana dan 27 sekolah siaga bencana di Banda Aceh. Pihaknya sudah melatih masyarakat dan pelajar tentang siaga bencana. Pihaknya juga menyatakan siap menambah jumlah gampong siaga bencana dari Banda Aceh.(hd)
Sumber : Serambinews.com
BANDA ACEH - Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, penanggulangan dan pengurangan risiko bencana termasuk program prioritas Pemerintah Aceh. Karena Aceh daerah rawan bencana, seperti tsunami, gempa, longsor, banjir bandang dan berbagai bentuk bencana lain.
Menurut Nazar, pihaknya mulai mengarahkan bahwa sekarang bukan hanya sekedar menyiapkan logistik, makanan dan obat-obatan. Tetapi justru pengurangan risikonya, misalnya ingin mendidik masyarakat supaya memahami resiko bencana dengan benar dan jangan melihat bencana dalam perspektif yang salah.
“Perlu dijadikan musibah sebagai pelajaran, karena itu alamiah. Ketika bencana, kita harus menemukan sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan lain-lain. Bukan trauma yang berkepanjangan,” ujar Wagub kepada Serambi usai mengisi materi dalam Workhop Komunikasi Organisasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Untuk Pengurangan Risiko Bencana yang digelar 27-28 November di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.
Kata Wagub, untuk daerah Aceh dalam rangka mendidik masyarakat, maka perlu membuat modul yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah. Tahun depan, pihaknya akan lebih mendorong dan merintis supaya di Universitas Syiah Kuala bisa membuat sistem pengurangan bencana di program S2-nya.
“Dengan PMI pun kita ajak dan kita dorong supaya memperbanyak gampong siaga bencana untuk mendidik masyarakat sehingga banyak yang paham. Meningkatkan kualitas masyarakat memahami bencana, merespons bencana dengan baik, menangani bencana dengan baik sehingga risikonya lebih kecil,” ujar Wagub.
Sementara Ketua PMI Cabang Banda Aceh Qamaruzzaman Haqny mengatakan, hingga kini sudah ada 21 gampong siaga bencana dan 27 sekolah siaga bencana di Banda Aceh. Pihaknya sudah melatih masyarakat dan pelajar tentang siaga bencana. Pihaknya juga menyatakan siap menambah jumlah gampong siaga bencana dari Banda Aceh.(hd)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)